Bos Telegram Buka Suara Usai Layanan Telegram Diblokir di Iran!

0
895
Copyright©Telset

Layanan Diblokir di Iran, Bos Telegram Buka Suara

Eratekno.com – Tahun 2018 baru saja di mulai, CEO Telegram Pavel Durov sudah langsung di buat pusing dengan pemblokiran akses layanannya di Iran. Layanan Telegram di nilai memicu kekerasan atas situasi di Itan yang memang sedang bergejolkan.

Seperti di ketahui, sejumlah aksi demonstrasi antipemerintah hingga tindakan berujung kekerasan tengah terjadi di Iran. Salah satu pemicunya adalah melemahnya situasi ekonomi.

Dalam sebuah pernyataan di channel resminya, Pavel Durov mengungkapkan otoritas Iran memblokir akses Telegram pada awal 2018 usai pihaknya menolak untuk menutup channel salah satu pemrotes Iran yang damai, seperti @sedaiemardom.

Baca juga: Perusahaan Spotify Dituntut Label Music Rp 21 Triliun !

“Kami bangga Telegram banyak digunakan oleh ribuan channel oposisi di seluruh dunia. Kami selalu mengutamakan kebebasan berbicara sebagai hak asasi manusia dan kami lebih baik diblokir di suatu negara ketimbang membatasi kebebasan bereksperasi secara damai sebagai opini alternatif,” tuturnya di channel @durov, Selasa (2/1/2018).

“Soal kebebasan berbicara, Telegram sama tak terbatasnya dengan aplikasi mobile lain,” tambah Durov.

Durov menceritakan bahwa pada 2015 silam, Apple dan Google sempat menghubungi Telegram usai serangan di Paris, Prancis. Pihak Telegram merespon dengan menambahkan persyaratan layanan sederhana di aplikasi. Di antaranya tak ada panggilan untuk kekerasan, pornografi hingga pelanggaran hak cipta pada saluran siaran publik.

Baca juga: Pemerintah Inggris Ancam Facebook dan Google Soal Teroris !

Sejak saat itu, Telegram telah memblokir ratusan channel yang bermuatan kekerasan setiap harinya, termasuk yang d laporkan oleh Channel @isiswatch. Hal ini untuk memastika kebijakan berlaku secara adil dan merata terlepas dari ukuran dan afiliasi politik.

“Lalu, adminnya menghubungi kami dan meminta maaf karena melanggar kebijakan layanan tentang kekerasan. Namun, akhirnya mereka mengumpulkan kembali pelanggan mereka sebanyak 800 ribu dalam sebuah channel yang damai. Kami menyambut hal itu,” jelasnya.

Durov juga meyebutkan bahwa pejabat Iran telah mengajukan tuntutan pidana kepada dirinya pada September 2017 lalu karena dinilai membiarkan Telegram menyebarkan berita tanpa sensor dan proganda ekstrimis. Hingga kemarin mereka telah memblokir Telegram, tak jelas apa ini permanen atau tidak.

“Kami sangat beruntung karena dapat menerapkan prinsip ini secara konsisten di 2017. Kami akan terus melakukannya di 2018 ini.” tutupnya.

   Baca juga Telegram Punya Fitur Baru, Apa Saja?